Para penunggang kereta pasti tau
dan pernah merasakan apa yang pernah saya rasakan, tentang apa yang ada di
lorong gerbong kreta api, mungkin hanya kereta “Ekonomi” yang tentunya, karna pada kereta bisnis ataupun executive
jarang yang membutuhkan apa yang ada di lorong kreta ekonomi karna sudah
tersedia di kereta bisnis maupun executive.
Pertama
kali mencoba hal yang baru memanglah sangat menyenangkan sekaigus sebagai
pengalaman yang menarik, begitu juga menunggangi kereta memanglah hal yang sangat
mengesankan bagiku. Tentang apa yang ada di lorong kereta, disana memanglah
terdapat banyak pelajaran yang dapat kita ambil dimana banyak orang yang bukan
hanya lewat disana tetapi juga menawarkan jasa. Seperi yang pernah teman dari
pondok saya ceritakan yang setiap liburan dia menaiki kereta api untuk pulang
dan pergi. Persis setelah dia datang
kembali ke pondok dia selalu membawa cerita yang menarik mulai dari “kipas geleng”,”cang-ci-men” atau
hal-hal menarik lainya yang setiap dia
cerita saya di buatnya berfantasi jauh untuk menyadari tentang kehidupan. Saya yang
hanya bisa berfantasi karena tidak pernah langsung mengalaminya berasa sangat
dan ingin mencoba dan mendapat berbagai cerita.
Akhirnya
tiba saatnya kesempatan saya untuk menjajal dan mencari cerita tersendiri dalam
lorong kereta. Seperti yang teman saya ceritakan sangat lah banyak cerita yang
ada disana dan sekaligus bisa di ambil hikmahnya.. salah satunya tentang
seorang anak yang membersikan lorong dengan menyapu sampah yang ada di bawah
tempat duduk padahal sudah ada petugas
yang mempunyai tugas membersihkanya. Nah, setelah anak itu membersihkan sampah
dengan menyapu kotoran yang ada di bawah tempat duduk anak itu meminta “upah”
hasil kerjanya. Tapi yang aneh setelah saya amati dari gerbong ke gerbong cara
anak meminta “upah” itu berbeda dengan cara orang lain meminta sesuatu seperti
pengemis, di mengambil uang atau apa yang di berikan seseorang dengan
menundukkan kepala sedangkan tangan untuk meminta bukan “nyadong” dalam bahasa
jawanya tapi dengan gaya seorang yang hendak memberi, yaitu dengan tangan di
atas di mengambil apa yang di berikan seseorang padanya bukanya malah di bawah,
hal itu yang memicu rasa skeptis saya untuk tau. Setelah tiba di gerbong
terakhir tepat pada tempat duduk saya yang paling ujung, saya memberanikan diri
mengapa anak itu meminta hasil “upah” dari membersikan sampah di bawah tempat
duduk .
“dek, kanapa kok gaya meminta ‘upahnya’ kok gtu?” tanya saya
“oalah, dulu saya pernah di bilangin sama ayah saya kalau tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah” jawab anak itu.
“dek, kanapa kok gaya meminta ‘upahnya’ kok gtu?” tanya saya
“oalah, dulu saya pernah di bilangin sama ayah saya kalau tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah” jawab anak itu.
Saya tiba-tiba tertawa, dan berfikir siapa yang patut
disalahkan? Siapa yang bertanggug jawab atas kejadian ini? bukanya saya harus
membenarkan? Sungguh kejadian yang menyentuh, seorang yang meminta-minta seolah tak mau diakui bahwa dirinya meminta. Itu
salah satu bukti jika hanya teori dan nol aksi maka hanya kesalah fahaman yang
kemudian banyak terjadi
0 komentar:
Posting Komentar